Monday, December 2, 2013

Sinopsis Novel "BELENGGU"

Karya: Armijn Pane

Dokter Sukartono menikah dengan seorang perempuan berparas ayu, pintar serta lincah. Perempuan itu bernama Sumartini dengan panggilan Tini. Sebenarnya Dokter Sukartono tidak mencintai Sumartini. Begitu juga sebaliknya dengan Tini, ia tidak mencintai Dokter Sukartono. Mereka menikah berdua dengan membawa alasan masing-masing. Dokter Sukartono menikahi Sumartini karena kecantikan, kecerdasan serta kelincahan yang dimilikinya. Menurut pikiran Dokter Sukartono, perempuan yang cocok untuk mendampinginya sebagai seorang dokter adalah Sumartini. Sumartini sendiri menikahi Dokter Sukartono, karena dia hendak melenyapkan sejarah masa silamnya. Dia berpendapat menikah dengan seorang dokter, maka besar kemungkinan dia berhasil melupakan masa lalunya yang kelam. Jadi keduanya tidak saling mencintai. Keduanya mempunyai alasan masing-masing mengapa mereka sampai jadi menikah. Karena mereka tidak saling mencintai, mereka berdua juga tidak pernah akrab. Dokter Sukartono dengan Sumartini jarang sekali bertukar pikiran atau berbicara. Masalah yang mereka hadapi masing-masing tidak pernah mereka usahakan dipecahkan secara bersama-sama layaknya suami-istri. Masing-masing memecahkan masalahnya sendiri-sendiri. Karena hal itu, keluarga ini tidak harmonis dan terasa hambar. Mereka sering salah paham dan suka bertengkar.
Ketidak harmonisan keluarga ini semakin menjadi-jadi sebab Dokter Sukartono lebih mencintai pekerjaannya sebagai seorang dokter. Dia bekerja menolong orang tanpa mengenal waktu. Jam berapapun pasien yang membutuhkan pertolongannya, Dokter Sukartono dengan sigap berusaha membantunya. Akibatnya, Dokter Sukartono melupakan kehidupan rumah tangganya sendiri. Dia sering meninggalkan istrinya sendiridi rumah. Dia betul-betul tidak punya waktu lagi untuk mengurus istrinya. Dokter Sukartono begitu dipuja dan dicintai oleh pasien-pasienya. Dia tidak hanya suka menolong kapanpun waktunya orang butuh pertolongan, tapi dia juga tidak meminta bayaran kepada pasiennya yang kebetulan tidak punya uang. Itulah sebabnya Dokter Sukartono sangat terkenal sebagai seorang dokter yang sangat dermawan. Akan tetapi kesibukan Dokter Sukartono yang demikian tak kenal siang maupun malam itu, semankin memicu percekcokan dalam rumah tangganya sendiri. Menurut Tini, Dokter Sukartono sangat egois. Sumartini merasa disepelekan. Dia bosan terus sendirian, karena ditinggalkan oleh Dokter Sukartono yang selalu sibuk menolong pasien-pasienya. Sumartini merasa dirinya telah dilupakan dan merasa bahwad erajat serta martabatnya sebagai seorang perempuan telah diinjak-injak oleh Dokter Sukartono. Setiap hari mereka berdua bertengkar. Masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Keduanya saling ngotot dan merasa paling benar.
Suatu hari Dokter Sukartono mendapat panggilan dari seseorang yang mengaku dirinya sedang sakit keras. Wanita itumemintak Dokter Sukartono datang ke hotel tempat wanita itu menginap. Setelah mendapat panggilan itu, Dokter Sukartono pergi ke hotel itu, dan terkejut bahwa pasien yang memanggilnya itu tidak lain adalah Yah atau Rohayah. Dokter Sukartono sudah lama kenal dengan Rohayah. Dia sudah kenal sejak kecil, sewaktu masih bersekolah di sekolah rakyat. Rohayah adalah teman sekelasnya. Yah waktu itu sudah menjadi seorang janda. Dia korban kawin paksa karena tidak sangup hidup dengan suami pemberian orang tuanya, Rohayah kemudian melarikan diri ke Jakarta. Dia di Jakarta terjun ke dunia nista yaitu menjadi wanita panggilan. Rohayah sendiri sebenarnya secara diam-diam sudah lama mencintai Dokter Sukartono. Dia sering menghayal Dokter Sukartono itu adalah suaminya. Itulah sebabnya secara diam-diam pula dia mencari alamat Dokter Sukartono. Setelah ketemu,Rohayah langsung menghubungi Dokter Sukartono. Ia pura-pura sakit, agar Dokter Sukartono mau datang. Karena Rohayah sangat merindukan Dokter Sukartono, pada saat itu juga Ia langsung mengoda Dokter Sukartono. Rohayah sangat ahli dalam mengoda dan merayu laki-laki. Pada waktu pertama kali datang ke hotel tempat dia menginap, Dokter Sukartono tidak begitu tergoda oleh rayuan Rohayah, tetapi karena Rohayah sering meminta Dokter Sukartono datang ke hotel untuk menyembuhkan penyakitnya, Dokter Sukartono lama kelamaan tergoda juga. Rohayah sangat pintar memberi kasih sayang yang sangat dibutuhkan oleh Dokter Sukartono. Selama ini ia tidak pernah mendapatkannya dari Sumartini. Akibatnya, karena dirumah tidak pernah merasa tenteram karena terus bertengkar dengan istrinya, maka Dokter Sukartono sering mengunjungi Rohayah. Hotel tempat Rohayah menginap itu sudah seperti rumah kedua bagi Dokter Sukartono. Lama-kelamaan hubungan Rohayah dan Sukartno ini, akhirnya di ketahui juga oleh Sumartini. Betapa panas hati Sumartini mendengar hubungan gelap suaminya dengan seorang wanita yang bernama Rohayah itu. Betapa ingin dirinya melabrak wanita yang bernama Rohayah itu. Secara diam-diam Sumartini pergi ke hotel tempat Rohayah menginap dengan membawa segudang kekesalan dan dendam pada Rohayah. Dia hendak mengatai Rohayah habis-habisan karena telah mengambil dan menggangu suami orang,. Akan tetapi setelah ia bertatap dengan Rohayah, Sumartini menjadi luluh. Sedalam kebencian dan nafsu marahnya pada Rohayah tiba-tiba lenyap. Rohayah yang dianggapnya sebelumnya adalah seorang wanita jalang, teryata adalah seorang wanita yang lembut dan penuh keramahan. Sumartini menjadi malu pada Rohayah. Dia merasa selama ini, telah bersalah pada Dokter Sukartono. Dia tidak bisa menjadi seorang istri yang didambakan oleh  Dokter Sukartono, suaminya selama ini. Sepulang pertemuanya dengan Rohayah, Sumartini mulai berpikir kembali tentang dirinya. Dia merasa malu dan bersalah pada suaminya. Selama ini ia selalu kasar pada suaminya dan merasa bahwa ia telah gagal menjadi seorang istri. Akhirnya Tini memutuskan untuk pisah dengan Dokter Sukartono. Permintaan Sumartini istrinya untuk berpisah diterima dengan berat oleh Sukartono. Bagaimanapun Sukartono  tidak mengharapakan terjadinya perceraian diantara mereka. Dokter Sukartono pun telah minta maaf pada Sumartini. Dia telah merubah tingkah lakunya, namun keputusan Sumartini sudah bulat. Dokter Sukartono tidak mampu menahanya dan akhirnya mereka bercerai. Sangat sedih hati Sukartono bercerai dengan Sumartini. Tambah sedih lagi hati Dokter Sukartono, sebab ternyata Rohayah juga pergi. Rohayah hanya meninggalkan sepucuk surat, yang mengabarkan bahwa dia mencintai Dokter Sukartono dan Rohayah juga mengabarkan bahwa ia meninggalkan tanah air untuk selama-lamanya dan pergi ke negeri Calidonia. Dokter Sukartono sedih dengan kesendiriannya. Sumartini telah pergi ke Surabaya dan mengabdi di sebuah panti asuhan yatim piatu.

-


Dalam novel ini kita belajar untuk lebih menghargai apa yang kita miliki, salah satunya adalah pasangan hidup. Pasangan hidup kita pasti adalah yang terbaik yang diberikan oleh Tuhan. Hanya bagaimana caranya kita bisa menerima dan beradaptasi dengan pasangan hidup kita tersebut. Jikalau Dokter Sukartono atau Tini bisa mengalah dan mau menerima kekurangan pasangan masing-masing, bisa dipastikan bahwa hubungan rumah tangga mereka masih akan tetap harmonis walaupun kehadiran Rohayah memasuki hidup Dokter Sukartono. Letak kesalahan pernikahan Dokter Sukartono dengan Tini juga berada pada alasan mereka menikah. Bukan didasari oleh rasa cinta melainkan alasan personal yang terkesan egois. Terang saja pernikahan mereka harmonis. Selain belajar untuk memahami satu sama lain, keduanya juga masih dituntut untuk belajar mencintai satu sama lain. Sementara kehidupan disekitar mereka beresiko memberikan cinta yang sebenarnya mereka butuhkan. Sebagai seorang istri, Tini juga seharusnya bisa lebih mengalah. Karena ketidakpiawaiannya sebagai seorang istrilah yang kemudian ia akui sebagai pemicu keretakkan rumah tangganya. Seorang istri adalah penopang suami. Sejahat apapun suaminya, seorang istri harus bisa meredam emosinya dan menjadi tiang doa untuk suaminya. Karena sudat kodrat seorang pria memiliki sifat egois. Namun, seorang pria bukan berarti bisa seenak hati menyakiti wanita. Seorang pria yang bertanggung jawab harus bisa menahan godaan yang datang, meskipun itu godaan tersulit sekalipun, yakni wanita. Dan pertahanan pria itu juga dikuatkan lewat doa-doa sang istri.

Kita juga bisa belajar melalui novel ini bahwa penyesalan selalu datang terlambat. Ketika Tini menceraikannya dan Rohayah meninggalkannya, Dokter Sukartono baru merasa kesepian dan mendambakan datangnya cinta. Seandainya Dokter Sukartono bisa memikirkan penyesalan yang akan ia rasakan ini sebelumnya, tentu ia akan bisa menjada perasaan Tini dan ‘lari’ dari godaan Rohayah.  Ia terlalu egois untuk bahkan memikirkan pernikahannya dengan Tini. Ia berpikir bahwa hanya dirinyalah yang kurang kasih sayang, padahal Tini juga sama sepertinya. 

Wednesday, November 27, 2013

MANUSIA DAN KEINDAHAN

Manusia senang melihat segala sesuatu yang indah. Dalam sebuah penelitian psikologis, keindahan yang tentunya berhubungan dengan hal-hal positif dapat meningkatkan serotonin, atau zat kimia dalam otak yang kemudian akan membuat individu tersebut menjadi ceria dalam satu hari tersebut. Sedangkan hal yang tidak indah dipandang seperti keburukan suatu benda atau kondisi bisa menurunkan kadar serotonin dan membuat individu tersebut menjadi pribadi yang lesu sepanjang hari.
Keindahan sesuatu bisa kita kaitkan dengan rasa syukur kita kepada Tuhan, karena kita percaya bahwa segala sesuatunya itu adalah pemberian dan anugerah dari Tuhan. Manusia diperintahkan untuk melestarikan keindahan itu sejak zaman Adam dan Hawa masih di taman Eden.

Keindahan
Kata keindahan berasal dari suku kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, (meskipun tidak semua hasil seni indah, pemandangan alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga di lereng gunung), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh), rumah (halaman, tanaman, perabot rumah tangga dan sebagainya), suara, warna dan sebagainya. Keindahan adalah identik dengankebenaran.
Menurut The Liang Gie dalam bukunya “Garis Besar Estetik” (Filsafat Keindahan) dalam bahasa Inggris keindahan itu diterjemahkan dengan kata “beautiful”, Perancis “beau”, Italia dan Spanyol “bello”, kata-kata itu berasal dari- bahasa Latin “bellum”. Akar katanya adalah ”bonum” yang berarti kebaikan kemudian mempunyai bentuk pengecilan menjadi’ ”bonellum” dan terakhir dipendekkan sehingga ditulis “bellum”.

Keindahan menurut penglihatan manusia
Keindahan tidak hanya bisa disangkutpautkan dengan pemandangan atau benda. Keindahan juga bisa dihubungkan dengan kondisi. Seperti dimana saat kita sedang berada didalam suatu kondisi yang harmonis dan penuh canda tawa, kita bisa melihat bahwa interaksi kita dengan orang-orang disekitar kita tersebut merupakan suatu keindahan yang sangat enak untuk dinikmati. Keindahan ciptaan Tuhan juga bisa kita dapatkan dari fisik seseorang. Seperti ketika para pria melihat wanita berparas cantik, bertubuh seksi dan secara fisik lainnya ia sempurna, para pria akan melihat itu sebagai suatu keindahan yang “memanjakan” mata mereka. Begitu juga dengan para wanita ketika melihat pria lain dengan fisik sempurna, kita juga akan melihat itu sebagai suatu keindahan.

Keindahan dengan akal budi
Akal dan budi merupakan kekayaan manusia tidak dirniliki oleh makhluk lain. Oleh akal dan budi manusia memiliki kehendak atau keinginan pada manusia ini tentu saja berbeda dengan “kehendak atau keinginan” pada hewan karena keduanya timbul dari sumber yang berbeda. Kehendak atau keinginan pada manusia bersumber dari akal dan budi, sedangkan kehendak atau keinginan pada hewan bersumber dari naluri.
Sesuai dengan sifat kehidupan yang menjasmani dan merohani, maka kehendak atau keinginan manusia itu pun bersifat demikian. Jumlahnya tak terbatas. Tetapi jika dilihat dari tujuannya, satu hal sudah pasti yakni untukmenciptakan kehidupan yang menyenangkan, yang memuaskan hatinya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa “yang mampu menyenangkan atau memuaskan hati setiap manusia itu tidak lain hanyalah sesuatu yang “baik”, yang “indah”. Maka “keindahan pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena dengan keindahan tu itu manusia merasa nyaman hidupnya. Melalui suasana . keindahan itu perasaan “(ke) manusia (annya)” tidak terganggu.
Dengan adanya keinginan-keinginan tersebut, manusia menggunakan nafsunya untuk mendorong hasrat atau keinginan yang dipikirkan atau direnungkan oleh sang akal tadi agar bisa terrealisasikan. Ditambah lagi dengan anugrah yang diberikan-Nya kepada kita (manusia) yakni berupa hati, dimana dengan hati ini manusia dapat merasakan adanya keindahan, oleh karena itu manusia memiliki sensibilitas esthetis.
Selain itu manusia memang secara hakikat membutuhkan keindahan guna kesempurnaan pribadinya. Tanpa estetika manusia tidak akan sempurna, Karena salah satu unsur dari kehidupan adalah estetika. Sedang manusia adalah mahluk hidup, jadi dia sangat memerlukan estetika ini.


Demikian pandangan saya mengenai manusia dan keindahan.

MANUSIA DAN CINTA KASIH

 Menurut saya, cinta merupakan anugerah dari Tuhan kepada setiap umat manusia, dan merupakan suatu bekal untuk para umat manusia agar bisa bertahan hidup di dunia. Tanpa cinta kasih, tidak ada satu orang pun yang bisa bertahan hidup. Cinta juga termasuk dalam bentuk bersosialisasi, namun memang berada di tahap yang lebih tinggi. Karena tidak mungkin ada perasaan cinta pada saat pertama kali kita berkenalan dengan orang baru. Rasa cinta, kasih, atau sayang itu akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu saat kita terus berada bersama dengan orang tersebut. 

Cinta
Dalam kamus umum bahasa Indonesia karya WJS Poerwadarminta. Cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada). Ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai menaruh belas kasihan. Pengertian tentang cinta dikemukakan oleh Dr. Sarlito.W.Sarwono. dikatakan bahwa cinta memiliki 3 unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan. Yang dimaksud dengan keterikatan adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia. Keintiman yaitu adanya kebiasaan - kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Panggilan-panggilan formal seperti bapak, ibu, saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan sayang. Kemesraan yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang. 

Tiga unsur tentang cinta :
1. Keterikatan : Adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dia.
2. Keintiman : Adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi.
3. Kemesraan : Adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang dan seterusnya.

Cinta kasih bisa didapat tidak hanya dari keluarga, namun juga bisa didapat dari teman sesama jenis, maupun lawan jenis. Konsep nature dan nurture bisa dihubungkan dengan hal ini. Nature, atau segala sesuatu yang berhubungan dengan turunan atau genetic bisa disangkutpautkan dengan cinta yang berasal dari keluarga. Karena dari sebelum kita lahir di dunia inipun kita sudah menerima cinta hingga akhirnya kita selamat saat membuka mata untuk pertama kalinya. Dan ketika kita lahir di dunia ini, otomatis keluarga kita adalah orang pertama yang menyambut kita dan merawat kita secara fisik maupun psikis hingga kita bisa menjalani hidup sendiri tanpa membebani mereka lagi. Sedangkan cinta yang berasal dari teman sesama jenis maupun lawan jenis merupakan bentuk cinta yang bisa disangkutpautkan dengan konsep nurture, atau segala sesuatu yang berhubungan dengan pengalaman kita hidup di dunia ini. Teman-teman kita adalah orang-orang yang ikut serta dalam pengalaman hidup kita. Dan tanpa cinta dari mereka, kita tidak akan memiliki pengalaman hidup yang indah. 

Kasih Sayang
Kasih sayang adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Dalam kasih sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut tanggungjawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu. 

Cinta Kasih Kepada Tuhan
Cinta kasih juga bisa dikaitkan dengan perasaan kita kepada Tuhan. Dimana rasa cinta kepada Tuhan digantikan dengan rasa takut akan Tuhan. Takut disini bukan berarti takut seperti kepada hantu, namun takut mengecewakan Tuhan jika kita berbuat dosa.
-       1 Yohanes 4:19 mengatakan, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”
-       Yohanes 3:16 mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Dalam ajaran kekristenan, Tuhan Yesus telah menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar kepada umat manusia lewat pengorbanannya di kayu salib. Jadi tidak ada alasan buat kita, para pengikut-Nya untuk tidak mengasihi Dia karena kebaikan-Nya yang luar biasa. “Kasih” juga merupakan hukum yang utama dan terutama dalam kehidupan umat Kristen (Markus 12:30-31, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” 

Demikianlah pandangan saya mengenai “Manusia dan Cinta Kasih”.